Monday, October 31, 2016

Interpretasi Al-Ghasyiyah ayat 1-7

Edisi : Kondisi menyakitkan di hari Kiamat

Muthalaah Ibnu Katsir,

Oleh :

Ustadz Ramadhan Abu Dr. Muhamad
Rahman Abie Mutiara RAZ.

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1)
 وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2)
 عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3)
 تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)
 تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (5)
 لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6)
 لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (7)


Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.
.
Al-Ghasyiyah salah satu nama lain dari hari kiamat —menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan Ibnu Zaidkarena hari kiamat menutupi semua manusia dan meliputi mereka semuanyaIbnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun, bahwa      Nabi Saw.  melewati seorang wanita yang sedang membaca firman-Nya:

 Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? (Al-Ghasyiyah: 1)

 Maka beliau bangkit dan mendengarkannya serta menjawab: Benar, telah datang kepadaku  (berita tentang hari pembalasan ), Adapun firman Allah Swt,

{ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ }

Banyak muka pada hari itu tunduk terhinaAl-Ghasyiyah: 2

Yang dimaksud dengan khusuk di sini adalah terhina, menurut Qatadah  
Juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Firman Allah Swt


{عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ }

bekerja keras lagi kepayahanAl-Ghasyiyah: 3

Yakni mereka telah banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Barqani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad Al-Muzakki, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq As-Siraj, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada kami Ja'far; ia pernah mendengar Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a. melewati sebuah tempat ibadah  yang dihuni oleh seorang rahib, maka Umar memanggilnya, "Hai rahib!" Lalu si rahib muncul; maka Umar  memandangnya dan menangis. Kemudian ditanyakan kepada Umar, "Mengapa engkau menangis, hai Amirul Mu’minin?" Umar menjawab, bahwa ia teringat akan firman Allah Swt. yang mengatakan: bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 3-4) Itulah yang menyebabkan aku menangis ).

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan  interpretasi dengan makna firman-Nya: bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)

Bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Telah diriwayatkan dari Ikrimah dan As-Saddi, bahwa makna yang dimaksud ialah bekerja keras di dunia melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, dan kepayahan di dalam neraka karena azab dan siksaan yang membinasakan

Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: memasuki api yang sangat panas (neraka). (Al-Ghasyiyah: 4) Artinya, yang panasnya tak terperikan.

Allah Swt berfirman :


{ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً }

“ diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Al-Ghasyiyah: 5”

Yakni yang panasnya tak terkira dan titik didihnya melebihi puncaknya sampai tingkatan yang tak terbatas; demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan As-Saddi .
  
Firman Allah Swt :


{ لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ }

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.
Al-Ghasyiyah: 6

Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dhari’ artinya sebuah pohon dari api.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa dhari’   adalah nama lain dari Zaqqum (sebuah pohon yang ada di dalam neraka);  tetapi menurut riwayat lain yang juga bersumber darinya, dari  adalah batu yang ada di dalam neraka

Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abul Jauza, dan Qatadah mengatakan bahwa  “ dhari ‘adalah sejenis pohon yang disebut syabraq.

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang Quraisy menamakannya syabraq bila musim semi, dan bila musim panas menamainya “  dhari’ “ pohonnya banyak durinya

Ikrimah mengatakan bahwa interpretasinya adalah dari sebuah pohon yang banyak durinya, yang tidak tinggi, melainkan menempel di tanah

Imam Bukhari mengatakan, Mujahid telah mengatakan bahwa dhari' adalah nama tumbuhan yang dikenal dengan nama lain syabraq, orang-orang Hijaz menamainya dari' bila kering, pohon ini mengandung racun .

Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.:  Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.

(Al-Ghasyiyah: 6) Yakni tumbuhan syabraq yang bila kering dinamakan dhari’ 
Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. (Al-Ghasyiyah: 6) Ini merupakan makanan yang paling buruk, paling kotor, dan paling menjijikkan.

Dengan demikian, bahwa sungguh dahsyat, segala siksaan yang akan di dapatkan oleh pelaku maksiat kelak di akhirat_hari berakhirnya ummat manusia dengan disuguhkan masakan yang tidak dapat menghilangkan lapar.


Firman Allah Swt
:
{لَا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ}

yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Al-Ghasyiyah: 7

and next…… Wallahua’lam bishawab . red. bp3myhnwlendangnangka.blogspot.com.


Sumber Bacaan :

Taftsir Ibnu Katsir

No comments:

Popular Posts