Penulis & Pentashih :
Abdul Rahman Ibnu Guru Anan
Tulisan ini didedikasikan dalam rangka momentum Haul Ustadz Abdul Manan (Guru Annan) yang ke 10 Tahun
(16 Rajab 1436 H - 16 Rajab 1446 H.)
*Silsilah dan Latar Belakang Keluarga*
Ustadz Abdul Hannan, yang akrab disapa *Guru Anan*, lahir pada 4 Juni 1955 di Kampung Are Manis, Desa Lendang Nangka, Lombok Timur, NTB. Beliau berasal dari keluarga ulama Sufi yang sederhana. Ayahnya, *Guru Jumadienul Islam (Guru Anan Lingsir)*, adalah seorang tokoh spiritual lokal, sementara ibundanya, *Inaq Anan (Shoimah)*, dikenal sebagai perempuan shalehah Istiqomah puasa Nabi Daud, yang mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kesufian. Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, Guru Anan mewarisi tradisi keilmuan dan kerendahan hati (*tawadhu’*) dari leluhurnya.
Meski berasal dari garis keturunan kiyai, beliau menolak disebut "tokoh istimewa". Dengan rendah hati, beliau sering berkata:
*“Tiyang niki goro nententen guru atau kiyai sak berilmu”*
(*“Saya hanya orang biasa, bukan guru atau kiyai yang berilmu tinggi”*).
Namun, masyarakat menjulukinya *“Guru Tawadlu’ nan Bagus”*—sebuah gelar yang mencerminkan kesalehan dan ketulusannya.
*Karakter Sufi dan Kehidupan Sehari-hari*
Guru Anan hidup dalam kesederhanaan. Sejak muda, beliau bekerja sebagai petani dan tukang kayu, mengikuti jejak ayahnya. Namun, jiwa pencari ilmu (*thalib al-‘ilm*) mendorongnya untuk berguru pada para masyayikh ternama. Dengan berjalan kaki dari Lendang Nangka ke Pancor (jarak 15 km), beliau setia menghadiri majelis *Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zaenuddin Abdul Majid*, pendiri Nahdlatul Wathan (NW), dari tahun 1970-an hingga sang maulana maha guru wafat pada 1997.
Setelah itu, beliau melanjutkan rihlah ilmunya ke *Majelis Hamzanwadi* di Pondok Pesantren Syaikh Zaenuddin NW Anjani, berguru pada ulama seperti *TGH. Ibrahim*, *Tgh.Mahmud Yasin*, *TGH. Muhammad Hilmi Najamuddin*, *TGH. Lalu Annas Hasyri*, dan *Tgh. Zaeni Abdul Hannan, Lc. M.Pd.I.* Kegigihannya dalam menuntut ilmu mencerminkan tradisi Sufi: *istiqamah* (konsistensi), *khidmah* (pengabdian), dan *muroqobah* (kesadaran spiritual).
*Sifat Mahmudah (Terpuji) yang Menjadi Teladan*
- *Murah Silaturahmi*: Guru Anan sering berkunjung ber-tabarrukan dan ber integrasi ke para ulama, seperti *TGH. Muhammad Thohir*, *TGH. Mahmud Yasin*, Pendiri Ponpes. Halimatussa'diyyah NW Lendang Nangka Lombok NTB *Ustadz Tuan Ramadhan, QH.*, Tuan Penghulu Hakim Islam *H. Lalu Sirojuddin*, ke sesama para pejuang Pondok Pesantren, *H.Burhan*, *Sayyid H. Qosim Jamalullail*, * Ustadz Drs.H.Lalu Burhanuddin*, *Dr.Lalu Ma'rifuddin, SE., M.Si*., *Ustadz Mohammad Toha, S.Pd*, Mamiq Enap, Mamiq Sholat dan pengasuh Ponpes Halimatussa’diyyah NW Lendang Nangka. Beliau tidak membeda-bedakan strata sosial—baik kepada habaib, petani, atau anak kecil, sikap santunnya tetap sama.
- *Penerimaan Tanpa Syarat*: Beliau dikenal tidak pernah menolak pemberian, sekecil apa pun. Masyarakat menceritakan, “*Guru Anan membesarkan hati semua orang, bahkan jika hadiahnya hanya sebatang lidi, segepal tembakau usang atau dengan jamuan apa adanya, ketika ngamarin dalam pengajiannya*.”
- *Da’i Bil Hal*: Dakwahnya mengalir melalui keteladanan. Ditahun 1986 - 1990-an Beliau mengajar di Madrasah Diniyyah Ponpes Halimatussa’diyyah NW Lendang Nangka, Pengajar Kitab *Durratun Nasihin karya Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad Hasan Al-Habuury*, *Masaailal Muhtadin bisyarh Sirrussalikin karya Syaikh Abdusshomad Al-Falembangi*, *Sabilal Muhtadin Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari*, Perukunan, Al 'Isyrinnu Sifati fil 'Ilmi Tauhidi, di Majelis-majelis halaqohnya di sekitar 14 Titik lokasi diantaranya; Kampung Tojang, Kampung Lendang Belo, Kampung Bangket Lendang, Kampung Sepolong Barat Desa Jurit, Punik, Sepolong Timur Desa Jurit Punik Agung Desa Kesik, Gelogor Desa Lendang Nangka, Kampung Pedaleman, Kampung Manggis, Kampung Dalem Lauq, Kampung Bahagia, Kampung Ruse, Kampung Ploman Desa Jurit, dan yang lainnya, baik didalam maupun luar Desa Lendang Nangka sambil merangkul semua golongan, termasuk menjaga harmoni dengan tradisi lokal selama tak bertentangan dengan syariat Islam.
*Metode Dakwah dan Perjuangan*
Sebagai *Da’i Billisan wa Bilhal*, Guru Anan memadukan pendekatan *uswah hasanah* (teladan baik) dan *hikmah* (kebijaksanaan). Prinsipnya mengacu pada sabda Nabi:
بلغوا عنّى ولو آية
“Sampaikan dariku, walau satu ayat”
*Inisiatif Dakwah Sufistik*
1.*Dari Rumah ke Rumah*: Beliau merintis sistem *halaqah* (kelompok kajian) di pelosok desa, mengajar di musholla dan rumah warga.
2. *Pendidikan sebagai Jihad*: Dengan menjadi “motivator low profile”, beliau mendorong masyarakat untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Kata-katanya yang terkenal:
“Guru Anan saja mampu, apalagi kita yang masih kuat bekerja!” menginspirasi warga Desa Lendang Nangka untuk prioritaskan pendidikan.
3. *Merajut Ukhuwah*: Beliau aktif dalam kegiatan *Al-Washathiyyah* (moderasi), menjembatani perbedaan antargolongan dan menjaga persatuan umat.
Prinsip Dakwah beliau selalu menyampaikan tentang keyakinan bagi pelaksana kebaikan selalu dalam keberuntungan dan kebahagiaan. Beliau mengutip Firman Allah Swt:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung".
((Q.S. Ali Imran (3), ayat 104))
Al Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, yaitu dengan menyeru orang-orang untuk berbuat kebajikan dan melarang perbuatan yang mungkar; mereka adalah golongan orang-orang yang beruntung.
Orang yang beruntung tersebut Al Imam Ad-Dahhak mengatakan, mereka adalah para sahabat yang terpilih, para mujahidin yang terpilih, dan para ulama.
Ibnu Guru Anan menambahkan termasuk orang-orang Sholih yang Istiqomah di Jala Perjuanagan Islam.

