Edisi : Kondisi menyakitkan di hari Kiamat
Muthalaah Ibnu Katsir,
Oleh :
Ustadz Ramadhan Abu Dr. Muhamad
Rahman Abie Mutiara RAZ.
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1)
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2)
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3)
تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)
تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (5)
لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6)
لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (7)
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak
muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api
yang sangat panas (neraka), diberi minum dari sumber yang sangat panas. Mereka
tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak
menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.
.
Al-Ghasyiyah salah satu nama lain dari hari
kiamat —menurut Ibnu
Abbas, Qatadah, dan Ibnu
Zaid— karena hari kiamat menutupi semua
manusia dan meliputi mereka semuanya. Ibnu
Abu Hatim mengatakan,
telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad
At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Abu
Ishaq, dari Amr ibnu Maimun, bahwa
Nabi Saw. melewati seorang
wanita yang sedang membaca firman-Nya:
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari
pembalasan? (Al-Ghasyiyah: 1)
Maka beliau bangkit dan mendengarkannya serta
menjawab: Benar, telah datang kepadaku
(berita tentang hari pembalasan ), Adapun firman Allah
Swt,
{
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ }
Banyak muka pada hari
itu tunduk terhina. Al-Ghasyiyah:
2
Yang dimaksud dengan khusuk di
sini adalah terhina, menurut Qatadah
Juga dikatakan oleh Ibnu
Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak
bermanfaat bagi dirinya.
Firman Allah Swt
{عَامِلَةٌ
نَاصِبَةٌ }
bekerja keras lagi
kepayahan. Al-Ghasyiyah:
3
Yakni mereka telah
banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat
mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.
Al-Hafiz Abu Bakar
Al-Barqani mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad Al-Muzakki, telah menceritakan
kepada kami Muhammad ibnu Ishaq As-Siraj, telah menceritakan kepada kami Harun
ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada
kami Ja'far; ia pernah mendengar Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa Umar ibnul
Khattab r.a. melewati sebuah tempat ibadah yang dihuni oleh seorang rahib, maka Umar
memanggilnya, "Hai rahib!" Lalu si rahib muncul; maka Umar memandangnya dan menangis. Kemudian ditanyakan
kepada Umar, "Mengapa engkau menangis, hai Amirul Mu’minin?" Umar
menjawab, bahwa ia teringat akan firman Allah Swt. yang mengatakan: bekerja
keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 3-4) Itulah
yang menyebabkan aku menangis ).
Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan
sehubungan interpretasi dengan
makna firman-Nya: bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)
Bahwa mereka adalah
orang-orang Nasrani. Telah diriwayatkan dari Ikrimah dan As-Saddi, bahwa
makna yang dimaksud ialah bekerja keras di dunia melakukan
perbuatan-perbuatan maksiat, dan kepayahan di dalam neraka karena azab dan
siksaan yang membinasakan.
Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan
dengan makna firman-Nya: memasuki api yang sangat panas (neraka). (Al-Ghasyiyah:
4) Artinya, yang panasnya tak terperikan.
Allah Swt berfirman :
{
تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً }
“ diberi minum (dengan
air) dari sumber yang sangat panas. Al-Ghasyiyah: 5”
Yakni yang panasnya tak
terkira dan titik didihnya melebihi puncaknya sampai tingkatan yang tak
terbatas; demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid,
Al-Hasan, dan As-Saddi .
Firman Allah Swt :
{
لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ }
Mereka tiada memperoleh
makanan selain dari pohon yang berduri.
Al-Ghasyiyah: 6
Ali Ibnu Abu Talhah
telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dhari’ artinya sebuah
pohon dari api.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa dhari’ adalah
nama lain dari Zaqqum (sebuah pohon yang ada di dalam neraka);
tetapi menurut riwayat lain yang juga
bersumber darinya, dari adalah batu yang
ada di dalam neraka .
Ibnu Abbas, Mujahid,
Ikrimah, Abul Jauza, dan Qatadah mengatakan bahwa “ dhari ‘adalah sejenis pohon
yang disebut syabraq.
Qatadah mengatakan bahwa orang-orang Quraisy
menamakannya syabraq bila musim semi, dan bila musim panas
menamainya “ dhari’ “ pohonnya banyak
durinya.
Ikrimah mengatakan bahwa interpretasinya adalah dari
sebuah pohon yang banyak durinya, yang tidak tinggi, melainkan menempel di
tanah.
Imam Bukhari mengatakan, Mujahid telah mengatakan bahwa dhari'
adalah nama tumbuhan yang dikenal dengan nama lain syabraq,
orang-orang Hijaz menamainya dari' bila kering, pohon ini mengandung racun .
Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah
sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Mereka tiada memperoleh makanan selain dari
pohon yang berduri.
(Al-Ghasyiyah: 6) Yakni
tumbuhan syabraq yang bila kering dinamakan dhari’
Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan
dengan makna firman-Nya:
Mereka tiada memperoleh
makanan selain dari pohon yang berduri. (Al-Ghasyiyah: 6) Ini merupakan
makanan yang paling buruk, paling kotor, dan paling menjijikkan.
Dengan demikian, bahwa
sungguh dahsyat, segala siksaan yang akan di dapatkan oleh pelaku maksiat kelak
di akhirat_hari berakhirnya ummat manusia dengan disuguhkan masakan yang tidak
dapat menghilangkan lapar.
Firman Allah Swt
:
{لَا
يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ}
yang tidak menggemukkan
dan tidak pula menghilangkan lapar. Al-Ghasyiyah: 7
and next…… Wallahua’lam bishawab . red. bp3myhnwlendangnangka.blogspot.com.
Sumber Bacaan :
Taftsir Ibnu Katsir

